Medan, Sumut – Mitrapolri.com |
Upaya membentengi generasi muda dari pengaruh negatif terus digencarkan. Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Provinsi Sumatera Utara bersama Satgaswil Sumatera Utara Densus 88 dan Dinas Pendidikan Provinsi Sumatera Utara menggelar sosialisasi bahaya Intoleransi, Radikalisme, dan Terorisme (IRET) di kalangan pelajar secara daring, Kamis (16/04/2026).
Mengusung tema “Ratakan Sumut: Pelajar Cerdas, Sumut Kuat, Indonesia Hebat”, kegiatan ini diikuti oleh sekitar 500 sekolah tingkat SLTA/SMK/MA se-Sumatera Utara, dengan jumlah peserta mencapai 50 hingga 200 pelajar dan guru di setiap sekolah.
Kegiatan dibuka oleh Sekretaris Badan Kesbangpol Provinsi Sumatera Utara yang mewakili Gubernur Sumatera Utara. Dalam sambutannya, ia menekankan pentingnya peran pelajar dalam menjaga persatuan bangsa serta mengajak seluruh peserta untuk mengikuti kegiatan dengan serius dan penuh perhatian.
Ia juga mengingatkan agar para pelajar tidak mudah terpengaruh oleh berita hoaks, mampu memahami serta menghargai identitas diri, dan aktif dalam kegiatan positif sebagai bekal berkontribusi bagi pembangunan bangsa di masa depan.
- BACA JUGA : Dukung Penguatan Ekonomi Nasional, Wakapolda Sumsel Tekankan Transparansi Tata Kelola Primkopol
- BACA JUGA : Wakapolres Kotim Ikuti Zoom bersama Mabes Polri Bahas Peningkatan Layanan 110 dan Pelayanan Publik
- BACA JUGA : Peringati Hari Kesadaran Nasional, Polda Kalteng Gelar Upacara Bendera
Sosialisasi kemudian dilanjutkan dengan pemaparan materi dari para narasumber berkompeten.
Kasatgaswil Sumatera Utara Densus 88, Kombes Pol. Dr. Didik Novi Rahmanto, menyampaikan materi tentang bahaya radikalisme dan terorisme di kalangan pelajar. Ia mengungkapkan bahwa generasi muda saat ini menghadapi berbagai tantangan ideologi seperti liberalisme, anarkisme, sosialisme, komunisme, hingga radikalisme berbasis agama dan ekstremisme.
“Pelajar harus memiliki daya tangkal atau imunitas terhadap paham-paham tersebut agar tidak mudah terpengaruh dan tetap berpegang pada nilai-nilai kebangsaan,” tegasnya.
Sementara itu, Ketua LBH Gerakan Suara Masyarakat Indonesia Sumut, Ahmad Firdausi Hutasuhut, SH, M.Si, membawakan materi tentang pentingnya pemahaman kebangsaan dan cinta tanah air di kalangan pelajar. Kegiatan ini dipandu oleh moderator Nengsi Legia yang mengarahkan jalannya diskusi secara interaktif.
Melalui kegiatan ini, diharapkan lingkungan pendidikan mampu menjadi garda terdepan dalam mencegah penyebaran paham IRET sejak dini. Para guru dan pelajar diharapkan dapat menolak intoleransi, melawan radikalisme, serta mencegah ekstremisme dan terorisme dengan cara berpikir kritis, bertindak positif, serta menjaga persatuan.
Dengan semangat kebersamaan, kegiatan ini menjadi langkah nyata dalam menciptakan generasi muda yang berkualitas, berkarakter, dan bertanggung jawab.
(Ricardo)




