Asahan, Sumut – Mitrapolri.com |
Nasib memprihatinkan dialami Aladin Panggabean (45), warga Dusun 6, Desa Perkebunan Aek Loba, Kecamatan Aek Kuasan, Kabupaten Asahan, Sumatera Utara. Hidup seorang diri dalam kondisi sakit stroke dan keterbatasan ekonomi, Aladin mengaku kesulitan memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, bahkan kerap mengalami kelaparan hingga tidak makan selama dua hari atau lebih.
Pria yang sejak lahir menetap di desa tersebut kini tinggal di sebuah rumah peninggalan orang tuanya dengan kondisi yang memprihatinkan. Kehidupan Aladin semakin berat setelah sekitar tiga tahun lalu istri dan anak semata wayangnya meninggalkan dirinya.
Di tengah persoalan rumah tangga yang dialaminya, Aladin diduga mengalami tekanan mental dan kondisi kesehatannya semakin menurun. Hampir setahun terakhir, ia menderita stroke yang membuat kemampuan fisiknya terbatas sehingga tidak lagi mampu bekerja dan menjalankan aktivitas sebagaimana mestinya.
Dalam kondisi serba kekurangan, Aladin mengaku belum pernah merasakan manfaat program bantuan sosial pemerintah yang seharusnya dapat membantu masyarakat kurang mampu.
Ironisnya, rumah Aladin disebut berada tepat di depan kediaman Kepala Desa Perkebunan Aek Loba, Supriadi, yang baru saja kembali terpilih sebagai kepala desa.
Saat ditemui wartawan Mitrapolri.com, Aladin mengungkapkan bahwa selama ini dirinya hanya mengandalkan belas kasihan tetangga maupun orang-orang yang ditemuinya untuk memenuhi kebutuhan makan sehari-hari.
“Saya ini orang lemah, Pak. Saya miskin dan karena sakit stroke, saya sudah tidak mampu bekerja. Hanya mengharapkan belas kasihan tetangga dan orang yang saya temui untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Itu pun belum tentu ada setiap hari,” ungkap Aladin dengan nada sedih.
Kondisi tersebut memunculkan pertanyaan serius mengenai ketepatan pendataan masyarakat miskin dan warga yang membutuhkan perhatian khusus di tingkat desa.
Pemerintah desa sebagai garda terdepan pelayanan masyarakat diharapkan tidak hanya mengandalkan data administratif, tetapi juga melakukan verifikasi dan pemantauan langsung terhadap kondisi warganya, terutama mereka yang hidup dalam keterbatasan ekonomi, menderita penyakit, dan tidak memiliki keluarga yang mendampingi.
Aladin berharap pemerintah, khususnya Pemerintah Desa Perkebunan Aek Loba, Pemerintah Kecamatan Aek Kuasan, serta Pemerintah Kabupaten Asahan, segera turun tangan melihat kondisi kehidupannya.
Ia juga meminta agar pendataan penerima bantuan sosial dilakukan secara objektif, transparan, dan tepat sasaran tanpa adanya kesan pilih kasih.
“Harapan saya pemerintah bisa melihat kondisi saya. Jangan sampai masyarakat yang benar-benar membutuhkan justru tidak mendapatkan bantuan,” demikian harapan Aladin.
Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa persoalan kemiskinan bukan sekadar angka dalam laporan administrasi. Ada masyarakat yang membutuhkan perhatian nyata, terlebih mereka yang sakit, hidup sebatang kara, dan tidak lagi memiliki kemampuan untuk mencari nafkah.
Kini, perhatian dan respons pemerintah daerah sangat dinantikan. Jangan sampai warga yang membutuhkan uluran tangan justru luput dari perhatian di tengah berbagai program bantuan sosial yang digulirkan pemerintah.
(Ganda Asmara)




