Nagan Raya, Aceh – Mitrapolri.com |
Aksi Damai massa yang tergabung dalam Gerakan Rakyak Anti Maksiat (GRAM) di gedung DPRK Nagan Raya Rabu (04/05/26) diwarnai dengan pengusiran sejumlah personil Satpol pp dan WH yang telah hadir disana.
Koordinator Aksi Teuku Ridwan, SH mengatakan pengusiran personel Satpol pp dan WH ini bukan tanpa alasan, mereka diam dan tidak melakukan apa-apa terkait peristiwa dirumah dinas Ketua DPRK Nagan Raya pada Rabu 28 Oktober 2026 yang lalu yang mana peristiwa dugaan khalwat ini sudah viral dan mengejutkan publik seantero Aceh.
“Saya selaku koordinator aksi mengusir personel satpol pp dan wh yang hadir saat kami menyampaikan aksi, buat apa mereka hadir kekantor DPRK sementara saat peristiwa dugaan khalwat dirumah dinas ketua DPRK mereka hanya diam saja, malah konfirmasi dari rekan-rekan media pun tidak direspon, padahal sesuai aturan merekalah pengawal jalannya Qanun dan peraturan kepala daerah, apalagi tentang penegakan syari’at islam di aceh”, ujar Teuku Ridwan.
Meskipun kasus ini ditangani oleh pihak kepolisian seharusnya WH bisa mengambil peran untuk bekerja sama didalam penanganan dugaan khalwat ini, seperti melakukan pengumbulan barang bukti (pulbaket), untuk jaga-jaga apabila pihak kepolisian mengembalikan penyelidikan nya ditangani polisi syari’at islam Wilayatul Hisbah.
“Karena kasus ini menjadi perhatian publik hingga ke nasional, warga mempertanyakan keberadaan WH Nagan Raya, jangan karena yang berbuat dugaan khalwat ini pejabat mereka takut untuk memproses, tapi kalau yang melakukan warga biasa mereka dengan garang nya bertindak dan ini preseden buruk untuk menegakkan syari’at islam dibumi Giok ini”, tambah Teuku Ridwan sang aktivis ini.
“Saya sangat mendukung tagline bupati TRK-SAYANG yaitu “Tapuwou Marwan Nagan Raya”. (kembalikan marwah Nagan Raya”, tetapi hari ini marwah Nagan Raya rusak gara-gara skandal ketua DPRK MRR, dan ironisnya lagi dilakukan dirumah dinas yang nota benenya operasional dinas dari uang rakyat.
(Bukhari)




