Bogor, Jawa Barat – Mitrapolri.com |
Momentum Hari Raya Idul Adha 1447 Hijriah/2026 Masehi yang jatuh pada Kamis, 28 Mei 2026, seharusnya menjadi ajang mempererat silaturahmi dan berbagi keberkahan. Hal itu juga yang dilakukan jajaran Polsek Jonggol, Kecamatan Jonggol, Kabupaten Bogor, melalui pembagian hewan qurban kepada masyarakat dan wartawan.
Kapolsek Jonggol disebut memiliki niat baik untuk berbagi kepada insan pers yang selama ini turut bersinergi menjaga kondusifitas wilayah. Bahkan, jumlah kantong daging qurban yang awalnya disiapkan sekitar 20 kantong untuk wartawan dikabarkan kembali ditambah menjadi 25 kantong, dengan masing-masing kantong berisi kurang lebih 2 kilogram daging qurban sebagai bentuk kepedulian dan kebersamaan di momen Idul Adha.
Namun sangat disayangkan, niat baik tersebut justru diduga tercoreng akibat kisruh pembagian yang menyeret nama seorang oknum wartawan berinisial “I” yang disebut menjadi koordinator pendataan dan distribusi untuk wartawan.
Sebelumnya, oknum berinisial “I” mengabarkan kepada sejumlah wartawan agar mengambil daging qurban di Polsek Jonggol sekitar pukul 10.00 WIB. Akan tetapi, ketika beberapa wartawan datang dan mempertanyakan hak mereka, pihak Polsek Jonggol menyampaikan bahwa seluruh pembagian telah diserahkan kepada pihak yang mengkoordinir daftar wartawan.
“Dari Polsek sudah diserahkan ke yang mencatat list wartawan,” ujar sumber di lokasi.
Persoalan muncul ketika masih ada wartawan yang mengaku tidak menerima jatah daging qurban. Bahkan muncul dugaan adanya sisa kantong daging seberat sekitar 2 kilogram per kantong yang tidak jelas keberadaannya.
- BACA JUGA : Aksi Demo Mahasiswa UUI Mewarnai Pelantikan 30 Pejabat Pemkab Bogor, Desak Bupati Rudy Susmanto dan DPRD Transparan Soal Anggaran
- BACA JUGA : Danrem 022/PT Hadiri Sholat Idul Adha dan Serahkan Hewan Kurban di Makorem
- BACA JUGA : Kapolda Jambi Terima Audiensi BPS Provinsi Jambi, Siap Dukung dan Kawal Sensus Ekonomi 2026
Saat dikonfirmasi, oknum wartawan berinisial “I” memberikan sejumlah alasan. Ia menyebut pembagian sudah selesai karena para wartawan yang datang lebih awal sudah mengambil dan pulang membawa jatahnya masing-masing.
“Kalau sudah lewat waktu bukan salahin kita lagi, wartawan juga sudah pada pulang masing-masing bawa punya sendiri,” ujar oknum “I”.
Tak hanya itu, oknum “I” juga kembali memberikan alasan lain kepada wartawan yang belum menerima jatah.
“Makanya datang sesuai waktu mbak,” ucapnya singkat.
Namun pernyataan tersebut justru kembali memunculkan tanda tanya besar. Sebab sebelumnya, oknum “I” juga mengaku dirinya hanya membawa jatah miliknya sendiri dan tidak membawa milik wartawan lain berinisial “A” dan “R”.
“Saya bawa punya saya saja,” ujar oknum tersebut.
Polemik semakin berkembang setelah wartawan berinisial “A” mencoba mengonfirmasi langsung kepada oknum wartawan berinisial “F”. Dalam keterangannya, oknum “F” menjelaskan bahwa dirinya menerima arahan melalui sambungan telepon yang disebut berasal dari Kapolsek Jonggol.
“Diri saya ditelepon, katanya ini jatah kamu 8 kantong saja ya, untuk dibagikan ke beberapa rekan media,” jelas oknum “F” saat dikonfirmasi oleh wartawan inisial “A”.
Keterangan tersebut memunculkan pertanyaan baru di kalangan wartawan. Sebab sebelumnya sempat beredar informasi adanya pembagian 7 kantong, namun belakangan disebut menjadi 8 kantong untuk dibagikan kembali kepada rekan media lainnya.
Pernyataan yang saling berbeda itu memicu polemik baru dan membuat sejumlah wartawan mempertanyakan transparansi pembagian. Dugaan adanya pengambilan jatah berlebih oleh oknum tertentu pun mulai menjadi perbincangan hangat di kalangan awak media.
Sejumlah wartawan menilai, jangan sampai niat baik Kapolsek Jonggol dalam berbagi keberkahan Idul Adha kepada insan pers justru rusak akibat ulah segelintir oknum yang diduga tidak amanah dalam menyalurkan pembagian.
Mereka berharap persoalan ini dapat diluruskan secara terbuka agar tidak menimbulkan fitnah, kesalahpahaman, maupun mencederai hubungan baik antara Polsek Jonggol dan para wartawan di wilayah Kecamatan Jonggol.
Momentum qurban yang sejatinya mengajarkan keikhlasan, kejujuran, dan kepedulian sosial diharapkan tidak berubah menjadi polemik akibat dugaan ketidaktransparanan dalam distribusi bantuan.
(RH)




