Banda Aceh, Aceh – Mitrapolri.com |
Pergantian Kapolda Aceh dari Irjen Pol. Marzuki Ali Basyah kepada Brigjen Ruddi Setiawan kiranya dapat melakukan terobosan-terobosan baru didalam penegakan hukum, salah satunya adalah agar dapat memberantas tambang-tambang ilegal dibeberapa kabupaten yang ada diaceh.
Hal ini disampaikan oleh Ketua Lembaga Investigasi Negara (LIN) Povinsi Aceh, Bukhari, S.H. Jum’at (26/06/26).
Bukhari berharap kepada Kapolda Aceh yang baru agar dapat memberantas kegiatan penambangan ilegal yang telah berlangsung lama.
“Kami berharap kepada pak kapolda yang baru agar dapat memprioritaskan penindakan terhadap penambangan emas ilegas dibeberapa kabupaten yang sudah merusak lingkungan ribuan hektar sehingga beberapa waktu lalu ditimpa banjir bandang yang dahsyat”, ujar Bukhari.
Bahkan kejadian terbaru di Aceh Jaya sempat merengut 2 nyawa penambang emas ilegal tertimpa material tanah.
“Aksi penambangan yang menggunakan alat berat ini tentu sangat merusak lingkungan karena lubang-lubang bekas galian alat berat tidak pernah ditutup kembali dan dibiarkan begitu saja.
- BACA JUGA : Presiden Prabowo Panggil Kapolri ke Istana, Bahas Kamtibmas hingga Hari Bhayangkara ke-80
- BACA JUGA : Wali Kota Sabang Lantik 20 Pejabat, Tekankan Integritas dan Profesionalitas
- BACA JUGA : Pemko Sabang Terima Audiensi Keuchik, Perkuat Sinergi Pemerintahan Gampong
“Kami mendapat laporan dari salah seorang warga Nagan Raya,disana ratusan alat berat eksevator beroperasi siang dan malam dibeberapa lokasi dikecamatan Seunagan,Seunagan Timur,Beutong dan kawasan pegunungan Alu Waki kecamatan Darul Makmur”, tambahnya.
“Dari isu yang beredar bebasnya alat berat ini beroperasi karena mereka telah menyetor uputi kepada oknum Aparat Penegak Hukum (APH) dengan angka yang fantastis yakni 30 juta per bulan untuk satu unit alat berat”, tutup Bukhari.
Sementara itu salah seorang warga Nagan Raya juga menyampaikan harapannya kepada Kapolda Aceh yang baru agar dapat memprioritaskan pemberantasan tambang ilegal ini, jangan hanya sekedar seremonia saja seperti yang dilakukan selama ini.
“Kami melihat sepertinya masalah penutupan tambang ini seperti film india, setelah penjahat mati barulah polisi datang ke tkp, seperti beberapa waktu lalu ketika tim irwasum turun dari mabes polri tak satu pun alat berat beroperasi dilokasi tambang, namun seminggu kemudian ratusan alat berat mulai beroperasi lagi siang dan malam”, ujar warga ini yang enggan disebut namanya.
Namun masyarakat menitipkan harapan kepada kapolda Aceh yang baru agar dapat menindak apabila ada oknum yang melakukan pungutan liar dan menjadi beking para penambang-penambang ilegal ini.
(T. Ridwan, SH)




