Mitra Polri
Minggu, Agustus 30, 2026
No Result
View All Result
  • Polri
    • Mabes
    • Polda
    • Polres
    • Polsek
  • News
    • Peristiwa
    • Regional
    • Nasional
    • Polres
  • Sumut
  • DKI
  • NAD
  • DIY
  • Bali
  • NTB
  • NTT
  • Lintas Provinsi
  • Polri
    • Mabes
    • Polda
    • Polres
    • Polsek
  • News
    • Peristiwa
    • Regional
    • Nasional
    • Polres
  • Sumut
  • DKI
  • NAD
  • DIY
  • Bali
  • NTB
  • NTT
  • Lintas Provinsi
No Result
View All Result
Mitra Polri
No Result
View All Result
  • Polri
  • Sumut
  • DKI
  • NAD
  • Lintas Provinsi
  • Mitra Polri TV
  • Kriminalitas
  • Nasional
  • Peristiwa
Home Provinsi Aceh
Transparansi Tender Indonesia (TTI) mendesak Badan Reintegrasi Aceh (BRA) memberikan penjelasan terbuka kepada publik terkait pengadaan kendaraan operasional yang nilainya sekitar Rp690 juta per unit.

Transparansi Tender Indonesia (TTI) mendesak Badan Reintegrasi Aceh (BRA) memberikan penjelasan terbuka kepada publik terkait pengadaan kendaraan operasional yang nilainya sekitar Rp690 juta per unit.

TTI: BRA Harus Jelaskan, Mengapa Mobil Operasional Harus Rp690 Juta per Unit?

by mitrapolri.com
30 Agustus 2026 | 08:27 WIB
in Aceh

Banda Aceh, Aceh – Mitrapolri.com |

Transparansi Tender Indonesia (TTI) mendesak Badan Reintegrasi Aceh (BRA) memberikan penjelasan terbuka kepada publik terkait pengadaan kendaraan operasional yang nilainya sekitar Rp690 juta per unit.

TTI menilai pengadaan kendaraan dengan nilai total sekitar Rp17,25 miliar tersebut tidak cukup hanya dijelaskan dengan alasan tersedia dalam e-Katalog atau telah mengikuti mekanisme e-Purchasing.

Koordinator TTI, Nasruddin Bahar, mempertanyakan dasar rasional pemilihan kendaraan di kelas harga tersebut apabila tujuan pengadaan hanya untuk mendukung operasional penghubung BRA di kabupaten/kota.

ADVERTISEMENT

“Pertanyaannya sederhana: mengapa mobil operasional harus hampir Rp700 juta per unit? Apakah tidak ada kendaraan yang lebih standar, lebih ekonomis dan tetap mampu menjalankan fungsi operasional di lapangan?” kata Nasruddin.

Menurut TTI, selama ini kendaraan dinas yang digunakan banyak kepala dinas dan pejabat daerah di kabupaten/kota justru berada pada kelas kendaraan operasional yang lebih umum. Karena itu, BRA harus mampu menjelaskan apa kebutuhan khusus yang menyebabkan kendaraan operasional penghubung harus berada pada kelas harga sekitar Rp690 juta per unit.

“Jangan berlindung di balik e-Katalog. E-Katalog adalah metode pembelian, bukan pembenaran untuk membeli kendaraan mahal. Yang harus diuji adalah kebutuhan, kepatutan, spesifikasi dan efisiensi penggunaan uang rakyat,” tegas Nasruddin.

TTI menilai penggunaan anggaran publik harus didasarkan pada prinsip value for money, bukan pada pendekatan menghabiskan pagu anggaran.

ADVERTISEMENT

Apalagi jika nilai transaksi pengadaan tersebut hampir sama dengan pagu yang tersedia, maka proses penyusunan spesifikasi, penentuan produk dan negosiasi harga patut dibuka secara transparan agar tidak menimbulkan kecurigaan publik.

TTI meminta BRA segera membuka:

1. Kajian kebutuhan 25 unit kendaraan.

2. Merek, tipe, varian dan spesifikasi teknis kendaraan.

3. Harga katalog awal.

4. Harga hasil negosiasi.

5. Pembanding harga kendaraan sejenis.

ADVERTISEMENT

6. Alasan tidak memilih kendaraan operasional yang lebih ekonomis.

7. Daftar penerima dan lokasi penempatan kendaraan.

8. Dasar kebutuhan kendaraan di setiap kabupaten/kota.

9. Dokumen justifikasi teknis dan harga.

10. Pihak yang menetapkan spesifikasi serta menyetujui transaksi.

TTI juga mempertanyakan mengapa jumlah kendaraan mencapai 25 unit, sementara Aceh hanya memiliki 23 kabupaten/kota.

“Kalau nomenklaturnya mobil operasional penghubung BRA di kabupaten/kota, publik berhak tahu dua unit lainnya diperuntukkan bagi siapa dan untuk kebutuhan apa,” katanya.

TTI mengingatkan bahwa uang Rp17,25 miliar bukan angka kecil.

Dengan anggaran sebesar itu, Pemerintah Aceh seharusnya benar-benar memastikan bahwa setiap kendaraan yang dibeli mempunyai urgensi, manfaat dan tingkat kebutuhan yang dapat dipertanggungjawabkan.

“Aceh masih membutuhkan anggaran untuk pendidikan, kesehatan, pengentasan kemiskinan, pemberdayaan masyarakat dan penyelesaian berbagai persoalan sosial. Karena itu, pembelian kendaraan operasional bernilai hampir Rp700 juta per unit tidak boleh dianggap sebagai pengadaan biasa.”

Menurut TTI, apabila kendaraan operasional dengan kemampuan yang memadai sebenarnya dapat diperoleh pada harga yang lebih rendah, maka selisih anggaran tersebut seharusnya dapat digunakan untuk kepentingan publik lainnya.

TTI karena itu meminta Inspektorat Aceh selaku APIP melakukan audit atau reviu terhadap proses perencanaan dan pengadaan tersebut, mulai dari penetapan kebutuhan, penyusunan spesifikasi, pemilihan produk, proses negosiasi hingga kewajaran harga.

“Yang perlu diperiksa bukan hanya apakah prosedurnya lengkap di atas kertas. Yang lebih penting adalah apakah keputusan membeli kendaraan senilai Rp690 juta per unit benar-benar merupakan keputusan yang paling efisien bagi keuangan daerah,” ujar Nasruddin.

TTI menegaskan, apabila BRA mempunyai alasan teknis yang kuat, maka alasan tersebut harus dibuka kepada masyarakat.

Namun jika tidak terdapat kebutuhan khusus yang membedakan kendaraan tersebut dengan kendaraan operasional standar lainnya, maka kebijakan tersebut patut dievaluasi.

“Jangan sampai uang rakyat dipakai untuk menaikkan kelas kendaraan birokrasi, sementara manfaat langsung kepada masyarakat justru tidak sebanding. Kendaraan operasional adalah alat kerja, bukan simbol kemewahan.”

TTI: Hentikan jika Belum Terikat Kontrak Final

TTI bahkan meminta Pemerintah Aceh mempertimbangkan menghentikan atau mengevaluasi transaksi tersebut apabila kontraknya belum final atau masih memungkinkan dilakukan peninjauan ulang.

“Kalau masih bisa dievaluasi, evaluasi sekarang. Jangan menunggu kendaraan datang baru kemudian publik mempertanyakan manfaat dan kewajarannya.”

TTI menegaskan bahwa prinsip dasar pengadaan pemerintah bukan bagaimana menghabiskan anggaran, melainkan bagaimana mendapatkan kebutuhan pemerintah dengan harga yang wajar, spesifikasi yang tepat dan manfaat sebesar-besarnya bagi masyarakat.

“Kalau mobil Rp300–400 jutaan sudah cukup untuk kebutuhan operasional, BRA harus menjelaskan secara terbuka mengapa rakyat Aceh harus membayar sekitar Rp690 juta per unit.”

(Bukhari)

Share2SendShare

Berita Terkait

Koordinator TTI, Nasruddin Bahar
Aceh

TTI Desak Kejati Aceh Usut Tuntas Pemotongan Dana Rehabilitasi Sekolah di Aceh Tenggara Senilai Rp48,258 Miliar

28 Agustus 2026 | 07:35 WIB

Aceh Tenggara, Aceh - Mitrapolri.com| Transparansi Tender Indonesia (TTI) menyoroti pengelolaan anggaran revitalisasi sekolah di Kabupaten Aceh Tenggara yang nilainya...

Read more
Nasruddin Bahar
Koodinator Transparansi Tender Indonesia (TTI)
Aceh

Investigasi TTI: Rp2,32 Triliun Revitalisasi 2.298 Sekolah di Aceh, TTI Temukan Sejumlah Red Flag yang Perlu Diaudit

27 Agustus 2026 | 15:52 WIB

Banda Aceh, Aceh - Mitrapolri.com | Transparansi Tender Indonesia (TTI) mulai menelusuri pelaksanaan Program Revitalisasi, Rehabilitasi dan Rekonstruksi Satuan Pendidikan...

Read more
Transparansi Tender Indonesia (TTI) mempertanyakan keseriusan Pemerintah Aceh dan Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) dalam menindak aktivitas pertambangan emas tanpa izin yang masih menjadi persoalan serius di sejumlah kawasan Aceh.
Aceh

TTI : Ultimatum Forkopimda Aceh Terkait Tambang Ilegal Hanya Gertakan Kosong

23 Agustus 2026 | 14:48 WIB

Banda Aceh, Aceh - Mitrapolri.com | Transparansi Tender Indonesia (TTI) mempertanyakan keseriusan Pemerintah Aceh dan Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda)...

Read more
Nasruddin Bahar
Koodinator Transparansi Tender Indonesia (TTI)
Aceh

TTI Sambut Positif Niat Kajati Aceh: Jaksa Jangan Main Proyek

20 Agustus 2026 | 08:06 WIB

Banda Aceh, Aceh - Mitrapolri.com | Transparansi Tender Indonesia (TTI) menyambut positif sikap tegas Kepala Kejaksaan Tinggi Aceh, Teuku Rahmadsyah,...

Read more

Berita Terkini

Aceh

TTI: BRA Harus Jelaskan, Mengapa Mobil Operasional Harus Rp690 Juta per Unit?

30 Agustus 2026 | 08:27 WIB
Kalimantan Tengah

Kapolda Kalteng Turun Langsung Padamkan Karhutla di Kawasan Sebangau dan Jalan Mahir Mahar Palangka Raya

30 Agustus 2026 | 08:12 WIB
Jawa Barat

Hukum Bagi PT Sentul City Dianggap Pepesan Kosong?

30 Agustus 2026 | 08:08 WIB
Kalimantan Tengah

Pantau Hotspot, Polsek Sabangau Dampingi Kapolda Kalteng Tinjau Taman Nasional Sebangau

30 Agustus 2026 | 08:02 WIB
Kalimantan Tengah

Apresiasi Pejuang Karhutla, Polsek Sabangau Beri Dukungan untuk Tim Relawan

30 Agustus 2026 | 08:00 WIB
Jawa Tengah

P3-GAI Lamuk Retak, Dana Aspirasi PKS Pusat Jadi Sorotan, Ada Keterangan Dugaan Pengondisian Rp25 Juta

30 Agustus 2026 | 07:57 WIB
Kalimantan Tengah

Jumat Berkah Polres Seruyan, Kapolres dan Bhayangkari Bagikan Sembako kepada Warga

30 Agustus 2026 | 07:49 WIB
Kalimantan Tengah

Pawai Anak Paud di Kuala Pembuang, Satlantas Polres Seruyan Pastikan Jalur Aman

30 Agustus 2026 | 07:46 WIB
Kalimantan Tengah

BKO Lemdiklat Polri Gelar Edukasi Penanggulangan Karhutla di Pelabuhan Rambang

30 Agustus 2026 | 07:43 WIB
Sumatera Selatan

Peringati Maulid Nabi, PTPN IV Regional II Kebun Dolok Ilir Salurkan Tali Asih kepada 100 Warga

29 Agustus 2026 | 09:07 WIB
Jawa Barat

Bukan Sekadar Rayakan Kemerdekaan! 332 Anak Yatim di Klapanunggal Tersenyum, Pemdes Hadir Bukan Hanya dengan Kata

29 Agustus 2026 | 08:52 WIB
Sumatera Utara

HUT ke-57 Ikatan Pemuda Karya Berjalan dengan Sukses

29 Agustus 2026 | 08:33 WIB
  • About Us
  • Redaksi
  • Policy
  • Terms
  • Pedoman

© 2021-2024 Mitra Polri

rotasi barak berita hari ini danau toba berita terkini

No Result
View All Result
  • Polri
    • Mabes
    • Polda
    • Polres
    • Polsek
  • News
    • Peristiwa
    • Regional
    • Nasional
    • Polres
  • Sumut
  • DKI
  • NAD
  • DIY
  • Bali
  • NTB
  • NTT
  • Lintas Provinsi

© 2021-2024 Mitra Polri

rotasi barak berita hari ini danau toba berita terkini