Pematang Siantar, Sumut – Mitrapolri.com|
Kehadiran Wali Kota Pematangsiantar, Wesly Silalahi, SH, MKn, dalam pembukaan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) Tahun Ajaran 2026/2027 di UPTD SD Negeri 122332 Jalan Sudirman, Senin (13/7/2026), menuai catatan kritis dari sejumlah orang tua siswa yang mendampingi anak-anak mereka pada hari pertama sekolah.
Meski Wali Kota dalam sambutannya menegaskan komitmen Pemerintah Kota mewujudkan sekolah yang ramah anak, aman, inklusif, dan bebas dari perundungan sesuai Surat Edaran Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Nomor 17 Tahun 2026, sejumlah orang tua menilai pelaksanaan kunjungan tersebut belum memberikan pengalaman yang berkesan bagi seluruh peserta didik baru.
Salah seorang orang tua siswa, Ricardo Lumbanraja, mengaku datang dengan harapan anak-anak dapat merasakan kebahagiaan karena dikunjungi langsung oleh kepala daerah. Namun menurutnya, rangkaian kegiatan lebih didominasi sambutan dan prosesi seremonial dibandingkan interaksi yang menyentuh seluruh siswa.
“Kami berharap kehadiran Wali Kota menjadi kenangan indah bagi anak-anak di hari pertama sekolah. Namun kenyataannya yang terlihat hanya pidato dan seremoni. Interaksi dengan seluruh peserta didik sangat minim sehingga kesan yang diharapkan tidak tercipta,” ujarnya.
Ricardo juga menyoroti pemberian cenderamata yang hanya dilakukan secara simbolis kepada tiga orang siswa berupa dua buku tulis. Menurutnya, momen tersebut seharusnya dapat dimanfaatkan untuk memberikan perhatian kepada seluruh peserta didik baru agar mereka merasa dihargai dan memiliki kenangan yang sama.
“Anak-anak datang dengan penuh semangat karena berharap bisa bertemu dan disapa langsung oleh Wali Kota. Tetapi yang terjadi hanya tiga siswa yang dipanggil secara simbolis menerima buku tulis. Bagi anak-anak lain, tentu muncul pertanyaan mengapa mereka tidak mendapatkan perhatian yang sama. Hal-hal kecil seperti ini justru sangat membekas dalam ingatan seorang anak,” katanya.
- BACA JUGA : Sat Reskrim Polres Nagan Raya Kembali Lakukan Penindakan Penyalahgunaan BBM Bersubsidi, Tiga Tersangka Ditahan
- BACA JUGA : Satlantas Polres Purbalingga Gunakan Badut dan Wayang Sosialisasi Tertib Lalu Lintas saat MPLS
- BACA JUGA : Wali Kota Sabang Imbau Ayah Antar Anak di Hari Pertama Sekolah
Ia menilai bahwa apabila Pemerintah Kota benar-benar ingin mewujudkan sekolah ramah anak, maka kehadiran kepala daerah tidak cukup hanya menjadi agenda protokoler, tetapi harus mampu menghadirkan kedekatan emosional melalui sapaan, dialog singkat, motivasi, maupun interaksi langsung dengan seluruh peserta didik.
Ricardo juga mengaitkan kritiknya dengan visi pembangunan Pemerintah Kota yang mengusung slogan “Siantar Cerdas.”
Menurutnya, slogan tersebut harus diwujudkan melalui kebijakan dan program yang memberikan dampak nyata terhadap kualitas pendidikan, bukan sekadar menjadi jargon dalam setiap kegiatan resmi.
“Siantar Cerdas jangan hanya menjadi slogan. Masyarakat ingin melihat hasil yang nyata. Masih banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan, terutama dalam meningkatkan budaya literasi di sekolah-sekolah negeri. Kemampuan membaca, minat belajar, dan kualitas literasi peserta didik masih perlu mendapat perhatian yang lebih serius,” tegasnya.
Menurut Ricardo, Pemerintah Kota bersama Dinas Pendidikan mengelola anggaran pendidikan yang besar setiap tahunnya. Karena itu, masyarakat berhak berharap agar penggunaan anggaran tersebut benar-benar berdampak terhadap peningkatan mutu pendidikan.
“Anggaran yang besar harus berdampak. Jangan hanya terlihat pada kegiatan seremonial, tetapi harus mampu meningkatkan kualitas pembelajaran, memperkuat budaya literasi, mengoptimalkan perpustakaan sekolah, meningkatkan kompetensi guru, dan melahirkan peserta didik yang benar-benar cerdas, berkarakter, serta berprestasi. Keberhasilan pendidikan tidak diukur dari megahnya acara, tetapi dari kualitas anak-anak yang dihasilkan,” ujarnya.
Ia berharap kritik tersebut menjadi bahan evaluasi bagi Pemerintah Kota Pematangsiantar dan Dinas Pendidikan agar setiap kunjungan pejabat ke sekolah tidak hanya menjadi agenda seremonial, melainkan benar-benar menghadirkan nilai edukatif, kebahagiaan, dan motivasi yang membekas bagi seluruh peserta didik.
Dengan demikian, visi “Siantar Cerdas” tidak berhenti sebagai slogan pembangunan, tetapi benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat melalui peningkatan kualitas pendidikan yang terukur, budaya literasi yang kuat, serta lahirnya generasi muda Pematangsiantar yang unggul dan berdaya saing.
(RN)




